Pantai

Wisatawan Diimbau Waspadai Rip Current Saat Berlibur di Pantai Pangandaran

pangandaranprime.com – Pantai Pangandaran dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat yang menawarkan panorama alam memukau, hamparan pasir yang luas, serta ombak yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Namun, di balik keindahannya, terdapat potensi bahaya yang sering kali tidak disadari oleh pengunjung, yaitu rip current atau arus balik. Fenomena alam ini merupakan salah satu penyebab utama insiden tenggelam di berbagai pantai di dunia karena mampu menyeret perenang menjauh dari bibir pantai dalam waktu singkat.

Donny Nurhamsyah, S.Kep., Ners., M.Kep., Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran dari Departemen Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis, menjelaskan bahwa rip current adalah arus sempit namun sangat kuat yang mengalir dari tepi pantai menuju laut lepas. Arus ini terbentuk ketika air laut yang terdorong ombak ke arah pantai kembali ke laut melalui celah tertentu. Meskipun tidak selalu terlihat jelas, kekuatan arus tersebut dapat mengalahkan kemampuan berenang sebagian besar orang.

Menurut Donny, banyak wisatawan yang belum memahami bahwa area laut yang tampak lebih tenang justru dapat menjadi lokasi terbentuknya rip current. Tidak adanya ombak yang pecah di suatu jalur sering kali disalahartikan sebagai tempat yang aman untuk berenang. Padahal, kondisi tersebut justru dapat menandakan adanya arus balik yang kuat. Selain itu, warna air yang tampak lebih gelap atau aliran buih dan pasir yang bergerak menjauh dari pantai juga dapat menjadi tanda keberadaan rip current.

“Kesalahan yang paling sering terjadi adalah wisatawan memilih berenang di area yang terlihat tenang. Padahal, area tersebut bisa menjadi jalur rip current yang mampu menyeret seseorang ke laut lepas hanya dalam hitungan detik,” ujar Donny.

Ia menambahkan bahwa apabila seseorang terjebak dalam rip current, hal terpenting yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan tidak panik. Menurutnya, banyak korban justru kehabisan tenaga karena berusaha berenang melawan arus untuk kembali ke pantai. Upaya tersebut umumnya tidak berhasil karena kekuatan arus jauh lebih besar dibandingkan kemampuan berenang manusia.

Donny menjelaskan bahwa langkah yang lebih aman adalah membiarkan tubuh tetap mengapung sambil menjaga energi, kemudian berenang menyusuri garis pantai hingga keluar dari jalur arus. Setelah berhasil keluar dari arus balik, barulah perenang dapat bergerak kembali menuju pantai. Apabila kondisi fisik sudah mulai melemah, ia menyarankan agar korban tetap mengapung dan segera memberi isyarat meminta pertolongan kepada petugas atau orang di sekitar.

Lebih lanjut, Donny mengimbau wisatawan agar selalu mematuhi rambu-rambu keselamatan dan mengikuti arahan petugas pengamanan pantai, termasuk Balawista yang setiap hari melakukan pemantauan terhadap kondisi ombak dan arus laut. Menurutnya, penutupan area tertentu untuk aktivitas berenang bukan tanpa alasan, melainkan didasarkan pada pertimbangan keselamatan demi mencegah terjadinya kecelakaan.

“Keindahan Pantai Pangandaran harus dinikmati dengan penuh kesadaran. Keselamatan bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga tanggung jawab setiap wisatawan. Dengan mengenali bahaya rip current dan mematuhi aturan yang ada, kita dapat menikmati liburan dengan lebih aman dan nyaman,” tuturnya.

Seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pangandaran, edukasi mengenai keselamatan di kawasan pantai diharapkan menjadi bagian dari budaya berwisata. Dengan memahami potensi bahaya yang ada dan bersikap waspada, setiap pengunjung dapat menikmati pesona Pantai Pangandaran sekaligus mengurangi risiko terjadinya kecelakaan di kawasan wisata.

Reporter: Pangandaran Prime
Editor: Pangandaran Prime

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *